Tiga hal yang saya anggap serius: buku, puisi dan bumi
Saya menulis puisi, membaca buku dan melakukan perjalanan tidak hanya untuk membuat catatan, tetapi juga untuk berbagi bagaimana sebuah cerita atau gagasan dapat mengubah cara kita memandang realitas.
-

2025: Catatan Perjalanan Hijau
Tahun 2025, saya menghabiskan sebagian besar waktu untuk misi yang mind-blowing: membantu tim proyek GIZ-GESIT (Green Jobs for Social Inclusion and Sustainable Transformation), proyek kolaborasi antara Kementerian PPN/Bappenas dan BMZ Jerman. Vibes utamanya adalah mendukung transisi Indonesia menuju konsep Ekonomi Hijau dan memastikan kita punya tenaga kerja terampil buat Green Jobs.
-

2026: apa yang akan kita temui?
Pada tahun 2026, bangsa Indonesia akan bangun dalam realitas di mana dampak perubahan iklim bukan lagi ancaman yang dibicarakan di meja-meja seminar, workshop atau webinar, tetapi kondisi harian yang harus dihadapi.
-

The Future Earth: Mimpi iklim Indonesia di tepi jurang optimisme
Buku ini menawarkan sesuatu yang jarang kita temui: optimisme yang radikal. Bukan optimisme naif, tetapi optimisme yang bekerja, yang dibangun di atas sains keras, imajinasi sosial yang luas, dan keyakinan bahwa kita masih bisa—bahkan harus—membayangkan dan membangun masa depan yang layak dihuni.
-

The Invisible Killer: ketika udara menjadi pembunuh senyap
Setiap pagi, jutaan warga Jakarta dan kota-kota besar lain di Indonesia menghirup sarapan beracun. Bukan dari makanan, tetapi dari polusi udara, yang bukanlah gangguan sampingan, melainkan “pembunuh tak kasat mata” yang merampas jutaan nyawa setiap tahun, menggerogoti ekonomi, dan memperdalam ketidakadilan sosial.
-

Catatan di Colomadu
Tahun 2016 merupakan tahun terakhir saya tinggal di rumah Colomadu, Karanganyar (sejak 2008) sebelum pindah kembali ke rumah di Mbesi, Sleman, Yogya. Di tahun ini saya sempat menulis beberapa catatan, sebagian besar tentang refleksi diri. Selamat membaca dan merenungi (jika memang menarik).

