Slow Living untuk Bumi yang Lebih Sehat
Ada sebuah puisi dari penyair Amerika, W.H. Davies, yang selalu terngiang di kepala saya sejak memutuskan untuk menginjak rem:
“What is this life if, full of care,
We have no time to stand and stare.”
(Apa arti hidup ini, jika penuh kepedulian,
Kita tidak punya waktu untuk berhenti dan memandang.)
Selama 30 tahun lebih, hidup saya yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain, melakukan perjalanan ke berbagai tempat, dan kurang lebih tujuh tahun menetap di Jakarta, adalah antonim dari puisi itu. Sebagai konsultan di lembaga jasa pembangunan, dunia saya adalah deadline, proposal, rapat yang beruntun, dan penerbangan yang menjembatani satu proyek ke proyek lainnya. Dari Aceh hingga Papua, dari Singapura yang teratur hingga keriuhan Hanoi, saya melihat dunia melalui jendela kantor, hotel, dan bandara.
Saya membantu merancang pembangunan, tetapi seringkali merasa justru menjadi bagian dari mesin yang menggerus sesuatu yang penting: ketenangan, untuk diri sendiri dan untuk bumi.
Keputusan saya untuk banting setir menjadi pekerja paruh waktu setelah tiga dekade bukan hanya soal kejenuhan. Ini adalah sebuah kesadaran bahwa gaya hidup kita yang serba cepat dan konsumtif adalah bahan bakar utama bagi kerusakan planet. Melambatkan hidup (slow living) bukan berarti bermalas-malasan. Ini tentang melakukan hal yang sama dengan kesadaran dan intensi yang berbeda.

Beberapa pelajaran yang saya petik dari melambatkan hidup adalah:
Transportasi berkurang
Dulu, dalam sebulan saya bisa 4-5 kali naik pesawat. Jejak karbon yang saya hasilkan sungguh menakutkan untuk dihitung. Sekarang, sebagai pekerja paruh waktu, saya memilih proyek yang benar-benar membutuhkan kehadiran fisik atau yang bisa diselesaikan secara daring. Hasilnya? Saya jarang terbang. Sebuah rapat koordinasi yang dulu harus dilakukan di Jakarta, sekarang bisa diganti dengan konferensi video yang efektif. Bayangkan, satu penerbangan pulang-pergi Jakarta-Solo/Yogyakarta dapat menghasilkan emisi karbon yang setara dengan menjalankan mesin mobil selama berbulan-bulan.
Konsumsi lebih sedikit
Hidup cepat sering berarti makan cepat saji, beli kopi dalam gelas plastik, dan memakai baju yang sekali pakai lalu dicuci. Hidup lambat mengajarkan saya untuk makan masakan rumah buatan istri, membawa tumbler, dan memilih kualitas daripada kuantitas.
Menyatu dengan Ritme Alam
Di Jakarta, AC menyala 24/7, lampu menyala terang, dan laptop jarang dimatikan. Sekarang, saya lebih sering bekerja di meja makan atau di ruang tamu yang dekat dengan teras rumah. Saya memanfaatkan cahaya matahari pagi dan angin sore. Listrik bukan lagi sesuatu yang taken for granted.
Makan makanan lokal dan musiman
Salah satu kebahagiaan terbesar saya sekarang adalah menyantap makanan lokal. Istri saya membeli sayuran dari pedagang keliling, sesekali belanja sayur dan lauk matang di penjual makanan tradisional sekitar rumah. Ini mengurangi jejak karbon dari transportasi makanan impor atau yang dikirim dari jauh. Makan sesuai musim juga sebuah keasyikan sendiri. Kita belajar menanti dan menghargai siklus alam.
Yang menakjubkan dari semua ini adalah, saat kita berbaik hati kepada bumi, bumi membalasnya dengan kebaikan untuk jiwa kita. Dengan mengurangi perjalanan, saya punya lebih banyak waktu untuk keluarga dan diri sendiri. Dengan pekerjaan yang dapat diatur sendiri, saya menemukan ketenangan. Dengan membeli lokal, saya terhubung dengan komunitas sekitar.

Sebuah syair dari Jalaluddin Rumi merangkumnya dengan indah:
“Bukan angin, bukan pula daun yang bergemuruh.
Ini hatiku, berdebar-debar di kejauhan,
menemukan ritmenya yang lama, yang natural.”
Dengan melambat, kita menemukan kembali ritme natural kita. Kita bukan lagi mesin produksi-konsumsi, melainkan manusia yang hadir sepenuhnya.
Tidak Harus Ekstrem Seperti Saya
Tertarik untuk melambatkan hidup? Anda tidak perlu langsung berhenti kerja atau pindah ke desa. Slow living bisa dimulai dari hal kecil:
- Jalan kaki: Untuk jarak dekat, berjalan kaki saja.
- Memasak satu makanan sehari: Masak satu kali sehari sudah mengurangi sampah kemasan.
- Matikan gadget dan nikmati dunia nyata.
- Beli barang bekas dan memberikan kehidupan kedua.
Pada akhirnya, melambatkan hidup adalah sebuah bentuk perlawanan terhadap narasi bahwa “lebih cepat dan lebih banyak” selalu lebih baik. Ini adalah pilihan untuk mengatakan, “Cukup.” Cukup untuk saya, dan cukup untuk bumi. Dengan melambat, kita bukan hanya menyelamatkan planet, kita merebut kembali hak kita untuk “berhenti dan memandang.
Sudahkah kamu melambat hari ini? (*)
