Dalam beberapa tahun terakhir, kita melihat semakin banyak perusahaan-perusahaan raksasa tidak lagi sekadar mengejar profit, tetapi justru menjadi motor utama penyelesaian masalah sosial dan lingkungan global—dari krisis iklim hingga kesenjangan. Feomena ini mirip yang dibayangkan (dan ditawarkan) oleh Bruce Piasecki, seorang pakar manajemen dan kebijakan, dalam bukunya yang provokatif, World Inc: When It Comes to Solutions—Both Local and Global—Businesses Are Now More Powerful Than Government. Piasecki mengajak pembaca menyaksikan sebuah pergeseran paradigma: lahirnya “kapitalisme sosial” di mana kesuksesan perusahaan diukur bukan hanya dari laporan keuangan, namun dari kemampuannya menciptakan “nilai bersama” (shared value). Gagasan ini mengguncang karena menempatkan sektor swasta—bukan pemerintah—sebagai aktor paling tangguh dan inovatif dalam merespons tantangan kemanusiaan.
Piasecki membangun argumennya dengan solid, didukung oleh riset dan studi kasus perusahaan-perusahaan global seperti Toyota, HP, dan Suncor. Ia menunjukkan bagaimana tekanan dari konsumen yang semakin sadar, investor yang bertanggung jawab, dan kompetisi global telah memaksa korporasi untuk mengintegrasikan tanggung jawab sosial ke dalam DNA bisnis mereka.
Buku ini bukanlah utopia; Piasecki mengakui bahwa dorongan ini tetap berorientasi pada keuntungan dan keunggulan kompetitif. Kekuatan utamanya terletak pada narasi yang meyakinkan bahwa berbuat baik kini telah menjadi strategi bisnis yang baik—bahkan yang terbaik. World Inc berhasil memetakan evolusi dari Corporate Social Responsibility (CSR) yang seringkali bersifat filantropis dan terpisah dari bisnis inti, menuju praktik “kapitalisme sosial” di mana keberlanjutan dan keadilan sosial menjadi bagian integral dari model operasi dan inovasi produk.
Namun, ketika kita meletakkan tesis optimis Piasecki ini ke dalam konteks Indonesia, di mana relasi bisnis-pemerintah seringkali dibayangi korupsi dan oligarki, sebuah pertanyaan kritis mengemuka: Apakah “kekuatan” korporasi yang digambarkannya adalah sebuah solusi, atau justru bagian dari masalah itu sendiri? Piasecki menulis dari sebuah konteks di mana aturan hukum, transparansi, dan masyarakat sipil relatif kuat, sehingga mampu “mendisiplinkan” korporasi.
Di Indonesia, relasi sektor swasta dengan pemerintah seringkali bukanlah hubungan checks and balances yang sehat, melainkan sebuah simbiosis mutualistik yang korup. Kekuatan korporasi yang begitu besar, alih-alih digunakan untuk menciptakan “nilai bersama”, justru sering dimanfaatkan untuk membentuk kebijakan (regulatory capture), mengamankan konsesi melalui suap, dan mengesahkan proyek-proyek yang mengabaikan keberlanjutan lingkungan dan hak masyarakat. Kasus korupsi di sektor energi, sumber daya alam, dan perizinan adalah bukti nyata bahwa kekuatan bisnis dapat dengan mudah berubah menjadi kekuatan perusak ketika mekanisme kontrol sosial dan hukum lemah.
Oleh karena itu, dalam konteks Indonesia, visi Piasecki mengandung risiko besar jika diterima begitu saja tanpa koreksi mendasar. “Kapitalisme sosial” yang diajukan bisa dengan mudah dibajak menjadi “kapitalisme kroni” versi hijau (green crony capitalism), di mana perusahaan besar yang dekat dengan kekuasaan mendapatkan proyek “ramah lingkungan” bernilai miliaran melalui proses tender yang tidak transparan, sambil terus mencemari lingkungan dan mengabaikan hak buruh di sektor lain. Kekuatan korporasi Indonesia seringkali bukanlah kekuatan inovasi dan solusi, melainkan kekuatan oligarki yang mempertahankan status quo yang tidak adil.
Pesan utama dari buku ini —bahwa bisnis harus menjadi bagian dari solusi—tetap valid. Namun, sebelum tesis Piasecki bisa bekerja, Indonesia harus terlebih dahulu menyelesaikan PR besar: memutus mata rantai korupsi antara pengusaha dan birokrat/politisi, memperkuat penegakan hukum, dan memberdayakan masyarakat sipil serta media sebagai pengawas. Hanya dalam ekosistem yang sehat, tekanan untuk menciptakan “nilai bersama” itu bisa benar-benar efektif dan tulus, bukan sekadar alat public relations atau cara baru mengeruk rente.
World Inc karya Bruce Piasecki menurut saya adalah buku yang penting dan visioner, namun pembaca Indonesia harus menyikapinya dengan realisme yang dingin. Buku ini bagai menunjukkan puncak gunung yang indah—sebuah dunia di mana bisnis memimpin perubahan positif. Namun, untuk mencapai puncak itu, Indonesia masih harus terlebih dahulu berjuang keluar dari rawa-rawa korupsi yang mengakar.
Kekuatan korporasi bisa menjadi kekuatan penyejahtera hanya jika dibingkai oleh negara yang kuat, bersih, dan demokratis. Tanpa itu, “World Inc” ala Indonesia hanya akan menjadi versi lain dari permainan kekuasaan lama yang mengenakan topeng baru yang lebih hijau dan lebih menarik. Tantangan kita bukan sekadar mendorong bisnis untuk menjadi lebih baik, tetapi terlebih dahulu menciptakan sebuah republik yang mampu menjinakkan dan mengarahkan kekuatan bisnis untuk kepentingan publik yang sejati. (*)
