Malam tak lagi menjadi milikku,
Demikian juga hati dan tubuhku,
Dunia yang menarik tak lagi asik dinikmati,
Saat sebaris doa menjadi khusukku,
Mengantarku mengingatmu,
Dan menuntaskan kangenku…
– Colomadu, 13 Januari 2016
Daun-daun di depan rumah yang basah oleh sisa hujan semalam,
memberi isyarat,
jika pagi terlalu sempurna untuk dihindari
– Colomadu, 16 Februari 2016
Ibarat menanam pohon yang berasal dari biji,
rasa sayang itu dipupuk dari tangan,
yang membalik dan mengolah tanah,
supaya akarnya mengikat dalam dan tak mudah goyah kelak,
dan itu butuh waktu….lama…
– Colomadu, 17 Februari 2016
Begitu banyak jendela yang aku temui.
Namun mengapa begitu sulit membuka jendela hatimu.
Biasanya ada bintang jatuh di langit saat akhir februari,
berharap bisa mengucap sebuah permintaan,
seperti di dongeng2 pengantar tidur saat kita kecil.
Sayangnya hujan belum berakhir di akhir pebruari ini,
dan mendung masih menggantung di awan…
Dan bila bintang jatuh itu datang terlihat,
pada saat aku tak hadir memandang langit,
biarlah bekasnya yang tergores di awan mengabariku esok harinya…
– Colomadu, 28 Februari 2016
Pernah suatu saat dawai gitarku putus,
jadi tak lengkap lagi nadanya.
Tak pernah aku paksakan untuk memainkannya.
Aku sandarkan di tempat yang hangat,
dan menunggu untuk senar yang baru terpasang nantinya.
Aku rawat sebisaku, dan mengusap debu-debu yang menempel di permukaannya.
Satu lagi jeda harus aku lalui,
sampai siap nantinya mengiringi lagu-lagu kehidupanku.
Akhirnya aku terbiasa dengan jeda yang berkepanjangan,
meskipun tak henti aku rawat keberadaannya,
siapa tahu suatu saat akan mengiringi lagu lama yang sering aku nyanyikan….
– Colomadu, 29 Feb 2016
Dari satu perjalanan ke perjalanan lain,
jarak kurasakan tak pernah semakin dekat,
bahkan aku merasa tak lagi melihat garis pantai,
yang bisa aku datangi untuk melabuhkan cerita-ceritaku.
Tetapi ada senyuman yang tersimpan hangat di hatiku,
yang selalu mengajakku untuk pulang, meski cuma sejenak…
– Colomadu, 1 Maret 2016
Dua hari tak hujan jalanan perlahan mengering dan berdebu.
Embun pun tak banyak tersisa,
hilang berkejaran dengan terang matahari.
Rasanya tubuhku perlu istirahat,
meski sulit untuk mencari waktu sekedar untuk berbaring dengan tenang.
Pikiranku berkejaran dengan waktu,
sementara ragaku berbisik untuk berhenti…
– Colomadu, 2 Maret 2016
Apakah masih perlu bicara jarak?
jika jauh dan dekat tak menjelma menjadi batas…
– Colomadu, 1 April 2016
Pertemuanku tak pernah sederhana,
karena itulah tak pernah ada perpisahan,
dan karena aku tak mengenal kata melupakan,
semua yang kusayangi adalah abadi…
– Colomadu, 2 April 2016
Karena dia bagian dari mimpimu,
jaga dia melebihi kau menjaga dirimu sendiri.
– Colomadu, 3 April 2016
Dalam ketidaksempurnaanku,
aku menemukan satu kata untuk memaknaimu dalam hariku…
“pulang”
– Colomadu, 17 April 2016
Hidup kita bukanlah sebuah pilihan yang ditanyakan jawabannya ke orang lain.
Karena kita bukanlah sebuah taruhan yang dapat dimenangkan oleh siapapun.
Jawaban hidup kita sudah disimpan olehNya,
dan Insha Allah akan diberikan saat kita sudah dewasa untuk menerima ketentuanNya.
– Colomadu, 22 April 2016
