2026: apa yang akan kita temui?

Bayangkan kita bangun di tahun 2026, dan udara semakin berat, bencana makin sering terjadi dan cuaca berubah tak menentu.

Ini bukan fiksi ilmiah. Pada tahun 2026, bangsa Indonesia akan bangun dalam realitas di mana dampak perubahan iklim bukan lagi ancaman yang dibicarakan di meja-meja seminar, workshop atau webinar, tetapi kondisi harian yang harus dihadapi. Saya jadi teringat ulasan di majalah National Geographic edisi Maret 2020 dalam artikel utamanya, “Bagaimana Kita Hidup di Bumi yang Memanas,” dan kesan visual yang menggugah dari edisi Oktober 2015, “Tak Ada Gambar Indah untuk Perubahan Iklim,”. Saya jadi merinding. Membaca kedua edisi majalah tersebut, kita dapat memproyeksikan dengan jelas panorama yang akan menyambut kita dua tahun mendatang.

Laporan dari berbagai lembaga dunia mengungkap bahwa krisis iklim adalah pengganda ancaman (threat multiplier) yang tak memiliki sisi estetika—hanya realitas keras yang memperburuk ketimpangan, menguji ketahanan pangan, dan mengubah lanskap fisik serta sosial kita. Di Indonesia, kepulauan tropis dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, efek ini akan terasa sangat personal, mengganggu, dan jauh dari gambaran indah.

Yang akan ditemui Indonesia di 2026: Realitas yang tak terbungkus indah

Bencana hidrometeorologi akan menjadi sesuatu yang “biasa” dan brutal. Kita akan mengalami siklus cuaca ekstrem yang semakin tak terprediksi. Musim kemarau akan lebih panjang dan lebih kering di banyak daerah, memicu kekeringan parah dan krisis air bersih, seperti yang pernah terjadi di Jawa Tengah dan Nusa Tenggara. Sebaliknya, musim hujan akan datang dengan intensitas yang menghantam. Banjir bandang di kota-kota besar akan lebih sering, lebih luas, dan lebih merusak. National Geographic (Maret 2020) mengingatkan bahwa pemanasan suhu laut berarti lebih banyak energi untuk badai. Sementara itu, edisi Oktober 2015 menyajikan foto-foto bumi retak dan sungai mengering—gambaran yang akan semakin umum, menggantikan foto sawah hijau subur.

Ancaman nyata rob & abrasi yang tak fotogenik. Laporan National Geographic 2015 secara brutal jujur menunjukkan dampak kenaikan air laut. Bukan pemandangan ombak biru, tetapi genangan air keruh yang merendam permukiman kumuh, jalan-jalan yang ambles, dan tanah pertanian yang tercemar garam. Pada 2026, fenomena rob (banjir air laut pasang) akan menjadi rutinitas mingguan yang menggenangi permukiman, merusak infrastruktur, dan mengkontaminasi air tanah. Kota-kota seperti Jakarta, Semarang, Pekalongan, dan Demak akan terus berperang melawan tanah yang ambles dan laut yang naik, dalam pemandangan yang jauh dari indah bagi penghuninya. Kehilangan garis pantai akan mengancam mata pencaharian nelayan, seperti yang digambarkan dengan suram tentang komunitas pesisir yang terancam di seluruh dunia.

Krisis di balik meja makan. Perubahan pola hujan dan suhu akan mengacaukan kalender tanam. Daerah penghasil padi akan menghadapi tekanan besar. Gagal panen parsial akan lebih sering, mendorong volatilitas harga bahan pangan pokok. Sementara itu, naiknya suhu dan keasaman laut, seperti dijelaskan National Geographic (Maret 2020), mengancam terumbu karang—sumber kehidupan ikan. Foto bawah air dari karang yang memutih (bleaching) di edisi 2015 adalah “gambar yang tak indah” yang tepat, pertanda kerusakan ekosistem pendukung pangan kita. Ikan-ikan bermigrasi, mengurangi hasil tangkapan nelayan lokal. Ancaman kerawanan pangan adalah krisis yang tak terlihat secara instagramable, tetapi terasa di perut.

Kesehatan publik terancam. Tahun 2026 akan melihat penyakit-penyakit tropis seperti demam berdarah dengue dan malaria berpotensi meluas. Polusi udara dari kebakaran hutan dan lahan (yang makin rentan di musim kemarau panjang) akan memicu lonjakan gangguan pernapasan. Gelombang panas meningkatkan risiko heatstroke. National Geographic edisi 2015 kerap menyoroti wajah manusia yang terdampak—petani yang putus asa, keluarga yang kehilangan rumah. Ini adalah dimensi manusia yang akan menjadi semakin nyata di Indonesia: penderitaan yang tak terpublikasikan dengan indah.

Kerugian ekonomi dan tekanan sosial. Rantai efek ini bermuara pada ekonomi. Kerusakan infrastruktur, penurunan produktivitas sektor pertanian dan perikanan, serta biaya kesehatan yang membengkak akan menjadi beban berat. Ketimpangan sosial akan melebar; mereka yang paling miskin dan paling rentan—yang kontribusinya terhadap emisi global paling kecil—akan menanggung beban terberat, mencerminkan ketidakadilan iklim yang disinggung dalam banyak laporan National Geographic. Konflik sosial atas sumber daya seperti air dan lahan yang semakin langka berpotensi meningkat, meretakkan kohesi sosial.

2026: Titik Kritis Antara Realitas Pahit dan Aksi Nyata

Nasib kita di 2026 tidak sepenuhnya tertulis. Itu sedang ditulis hari ini. Kita harus menolak untuk menerima “gambar yang tak indah” ini sebagai takdir final. Kita masih bisa mengubah trajektori dari sekadar bertahan (survive) menjadi lebih tangguh (resilience). Namun, ini membutuhkan keberanian untuk melihat realitas secara jujur, seperti yang dilakukan National Geographic, dan bertindak kolektif.

Apa yang bisa kita lakukan?

Kita harus bergerak melampaui retorika dan estetika semu. Pemerintah harus mempercepat transisi energi dengan komitmen nyata, menghentikan deforestasi secara permanen, dan mengintegrasikan pertimbangan iklim ke dalam setiap kebijakan. Dunia usaha harus bertransformasi ke model bisnis rendah karbon. Namun, kekuatan terbesar ada di tangan kolektif masyarakat. Kita perlu menekan para pemimpin untuk membuat keputusan berani. Tuntut akuntabilitas. Kita tak bisa melakukan pembiaran atas “gambar-gambar tak indah” yang akan menjadi kehidupan sehari-hari.

Mulai dengan tindakan sederhana.

Sementara kita mendorong perubahan sistemik, setiap rumah tangga Indonesia di 2026 bisa menjadi unit perlawanan terhadap masa depan yang suram dan awal dari solusi. Dari yang telah saya praktekkan di tahun 2025 ini dan membaca beberapa artikel tentang perubahan iklim, setidaknya ada beberapa tips sederhana yang berdampak besar jika dilakukan secara massal:

Pertama, kendalikan sampah makanan. Rantai dingin makanan dan perencanaan menu yang baik mengurangi sampah organik. Komposkan sisa yang tak terhindarkan. Setiap sendok nasi yang tak terbuang adalah perlawanan.

Kedua, revolusi diet piring kita. Kurangi konsumsi daging, terutama daging sapi. Isi piring dengan lebih banyak sayuran, buah, dan protein nabati lokal seperti kacang-kacangan, tempe, dan tahu. Diet kita adalah suara untuk masa depan.

Ketiga, bijak air dan energi. Pasang pancuran dan keran aliran rendah. Tampung air hujan. Matikan dan cabut peralatan listrik yang tidak digunakan. Ganti lampu dengan LED. Hemat energi adalah kunci.

Kelima, hijaukan lingkungan sekitar. Tanam pohon yang cocok di pekarangan atau tanaman dalam pot di balkon. Menghijaukan adalah tindakan merawat langsung planet yang sedang sekarat.

Keenam, menjadi konsumen yang cerdas iklim. Pilih produk dengan kemasan minimal, bawa tas dan wadah belanja sendiri. Dukung produk lokal. Perbaiki dan gunakan ulang. Setiap pembelian adalah pilihan untuk dunia seperti apa yang kita inginkan.

Tahun 2026 akan menjadi cermin dari pilihan-pilihan yang kita buat dari sekarang. Kita akan menghadapi konsekuensi dari gambar-gambar yang tak indah yang telah lama diabaikan, tetapi kita juga memiliki peluang untuk mulai melukis ulang lanskap masa depan kita dengan tindakan nyata. Seperti pesan tersirat dari National Geographic edisi 2015: keindahan sejati bukan lagi pada pemandangan, tetapi pada kehendak untuk berubah.

Aksi kita hari ini adalah kuas untuk melukis ulang realitas esok. (*)