Perjalanan ke IKN

Udara di Kalimantan Timur pada akhir Januari 2026 terasa berbeda. Bukan hanya karena guyuran hujan yang menyegarkan, tetapi karena getaran energi progresif yang menguar di setiap sudut Ibu Kota Nusantara (IKN). Kunjungan saya kali ini memiliki tujuan spesifik: bertemu dengan tim di Kedeputian Transformasi Hijau dan Digital dan melihat langsung perkembangan pembangunan IKN. Setelah dua setengah jam berkendara dari Samarinda, apa yang saya saksikan bukan hanya sekadar kemajuan fisik. Bagi saya, ini adalah sebuah lompatan peradaban.

Transformasi Hijau dan Digital: Bukan Konsep, Tapi Realitas

Dalam pertemuan dengan tim Kedeputian, konsep “smart and green metropolis” yang selama ini terasa abstrak, menjadi sangat nyata. Mereka mendemonstrasikan Dashboard Digital Nusantara, sebuah pusat kendali yang memantau kota ini layaknya sebuah organisme hidup. Dari keamanan yang diintegrasikan dengan AI dan sensor cerdas, pemantauan kualitas air di setiap sudut lahan basah yang direstorasi, hingga optimasi penggunaan energi real-time di setiap gedung pemerintah serta rumah susun para staf ASN—semuanya terhubung dalam satu jaringan data. Hal yang paling menakjubkan: antarmuka sistem yang canggih itu dioperasikan oleh wajah-wajah muda yang penuh semangat.

Generasi Milenial dan Z: Otak dan Jiwa di Balik Layar

Sebagian besar staf teknis dan pengelola yang saya temui adalah generasi milenial dan gen Z. Mereka bukan hanya sebagai operator, tetapi sebagai pencari solusi yang lincah. Salah seorang analis data, yang mungkin baru lulus kuliah beberapa tahun lalu, dengan lancar menjelaskan bagaimana algoritma mereka memprediksi pola konsumsi air untuk meminimalkan pemborosan. Ada keyakinan dan kepemilikan di mata mereka. Mereka adalah para generasi digital yang memang dilahirkan untuk membangun kota native digital seperti IKN. Melihat mereka, saya semakin yakin bahwa IKN akan menjadi laboratorium pembangunan berkelanjutan terbesar di Asia Tenggara (bahkan mungkin di Asia), sebuah prototipe kota masa depan yang akan dievaluasi, disempurnakan, dan mungkin suatu hari nanti, direplikasi.

Konon pembangunan di IKN masih terus berlanjut (saya bisa melihat sendiri sekarang). Dari informasi yang saya miliki, setidaknya beberapa investasi hijau yang sedang digarap meliputi proyek energi terbarukan seperti solar pv, dan fasilitas smart grid nasional pertama yang sedang dalam tahap akhir penyelesaian. Selain itu, fasilitas pendidikan dan inovasi telah dimulai, sebuah hub riset dan kewirausahaan teknologi hijau. Juga Bandara Nusantara fase pertama, rumah sakit dan taman-taman pintar dengan sensor IoT untuk memantau kesehatan tanah, air, dan udara telah aktif, sekaligus menjadi ruang interaksi sosial.

Berjalan di antara gedung-gedung dengan desain dan struktur bangunan yang ritmis, dan taman-taman yang cerdas, saya merasakan semangat kolosal dari para perintis—para insinyur, perencana, pengelola taman, hingga petugas kebersihan—yang tinggal dan bekerja dengan keyakinan yang sama: mengelola sebuah ibu kota dari nol. Di sinilah, rasa skeptis berubah menjadi harap. Saya bertambah senang, karena setidaknya uang pajak yang saya bayarkan (yang tidak seberapa), digunakan untuk sesuatu yang benar dan baik untuk masa depan bangsa ini. Ia tak terserap dalam birokrasi yang gelap, tetapi menjelma menjadi panel surya, menjadi algoritma konservasi air, menjadi beasiswa untuk anak muda di pusat data, dan menjadi asa yang berdiri kokoh di tanah Kalimantan.

Sebelum mengakhiri perjalanan, saya dan rombongan menyempatkan diri menuju sebuah bukit berhutan di tepian kawasan inti. Inilah tempat yang pernah menjadi saksi bisu momen sederhana namun sarat makna: ketika Presiden Jokowi dan para menteri berkemah di sini beberapa tahun silam, merancang impian besar IKN di bawah langit berbintang. Kini, aura historisnya tidak hilang, melainkan bertransformasi dengan elegan. Area itu telah disulap menjadi semacam tempat untuk retreat dan menginap, sebuah kumpulan kabin kayu minimalis dan fasilitas pendukung yang harmonis dengan kontur alam.

Berdiri di teras beralas kaca di sebuah bangunan yang sedang dituntaskan (mungkin akan dijadikan sebagai resto atau kafe), saya menyaksikan senja yang megah menyapu langit IKN. Dari ketinggian ini, panorama ibu kota baru terhampar seperti sebuah lukisan hidup. Gedung-gedung futuristik tidak tampak sebagai gangguan, melainkan sebagai elemen yang menyatu dengan selimut hutan hijau, disela-sela oleh kilauan danau buatan dan jalur hijau yang berkelok. Suara alam sore hari yang sempurna. Mungkin inilah inti dari visi IKN, pembangunan yang tidak mendominasi, tetapi berdialog dengan alam.

Yang membuatnya lebih membanggakan, area kabin ini nantinya akan terbuka untuk disewa publik. Setiap warga Indonesia, suatu hari nanti, bisa datang ke sini, bermalam, dan mengalami sendiri perspektif yang mungkin pernah dirasakan oleh para pemimpin bangsa saat mereka merumuskan awal dari segala awal. Sebuah kesempatan untuk tidak hanya melihat IKN sebagai proyek, tetapi merasakannya sebagai sebuah filosofi hidup yang baru.

Di ketinggian ini, dengan angin sepoi-sepoi membelai wajah, segala data, presentasi, dan diskusi tentang transformasi hijau dan digital menemukan bentuknya yang paling puitis. IKN bukan lagi sekadar gagasan di atas kertas atau sensor di dalam dashboard. Ia adalah sebuah lanskap nyata, sebuah janji yang sedang dipenuhi, dan undangan terbuka bagi kita semua untuk menjadi bagian dari cerita besarnya. Dan senja itu pun mengajarkan satu hal: masa depan terlihat paling indah, justru ketika ia dibangun dengan tidak menutupi keindahan yang sudah ada.

Kunjungan ini saya akhiri dengan satu keyakinan: semoga bisa kembali ke tempat ini. (*)