
•
Tahun 2025, saya menghabiskan sebagian besar waktu untuk misi yang mind-blowing: membantu tim proyek GIZ-GESIT (Green Jobs for Social Inclusion and Sustainable Transformation), proyek kolaborasi antara Kementerian PPN/Bappenas dan BMZ Jerman. Vibes utamanya adalah mendukung transisi Indonesia menuju konsep Ekonomi Hijau dan memastikan kita punya tenaga kerja terampil buat Green Jobs.

•
Pada tahun 2026, bangsa Indonesia akan bangun dalam realitas di mana dampak perubahan iklim bukan lagi ancaman yang dibicarakan di meja-meja seminar, workshop atau webinar, tetapi kondisi harian yang harus dihadapi.

•
Buku ini menawarkan sesuatu yang jarang kita temui: optimisme yang radikal. Bukan optimisme naif, tetapi optimisme yang bekerja, yang dibangun di atas sains keras, imajinasi sosial yang luas, dan keyakinan bahwa kita masih bisa—bahkan harus—membayangkan dan membangun masa depan yang layak dihuni.

•
Setiap pagi, jutaan warga Jakarta dan kota-kota besar lain di Indonesia menghirup sarapan beracun. Bukan dari makanan, tetapi dari polusi udara, yang bukanlah gangguan sampingan, melainkan “pembunuh tak kasat mata” yang merampas jutaan nyawa setiap tahun, menggerogoti ekonomi, dan memperdalam ketidakadilan sosial.

•
Tahun 2016 merupakan tahun terakhir saya tinggal di rumah Colomadu, Karanganyar (sejak 2008) sebelum pindah kembali ke rumah di Mbesi, Sleman, Yogya. Di tahun ini saya sempat menulis beberapa catatan, sebagian besar tentang refleksi diri. Selamat membaca dan merenungi (jika memang menarik).

•
Buku ini mengajak pembaca menyaksikan sebuah pergeseran paradigma: lahirnya “kapitalisme sosial” di mana kesuksesan perusahaan diukur bukan hanya dari laporan keuangan, namun dari kemampuannya menciptakan “nilai bersama” (shared value).

•
Saya berkesempatan indekos di Jakarta, kurang lebih enam tahun, antara tahun 2017 – 2023. Selama itu pula saya berusaha “menjinakkan” kerasnya kota ini dengan menulis puisi. Tentang apapun. Tapi sebagian besar juga tentang cinta. Cinta untuk siapapun yang saya temui disana dan berbagi cerita. Selamat membaca, dan silakan disalin jika membutuhkan.

•
Selama kurun waktu 2015 – 2017, saya banyak melakukan perjalanan ke daerah di Indonesia. Dalam perjalanan tersebut saya cukup produktif menulis puisi pendek, sebagian besar tentang cinta dan rindu.

•
Apa yang tertuang dalam buku The Future We Choose menurut saya penting, mendesak, dan sangat personal bagi Indonesia. Ia mengingatkan kita bahwa masa depan bukanlah takdir yang pasif kita terima, tetapi sebuah pilihan aktif yang kita buat hari ini melalui kebijakan, investasi, dan suara kita.

•
Novel ini mampu menjadikan sejarah yang abstrak dan seringkali diabstraksikan menjadi sangat intim dan multidimensi. Leila berhasil mengubah statistik dan jargon politik menjadi cerita tentang bau rendang yang merindu, bunyi gamelan yang terdistorsi oleh memori, dan rindu yang terpatri pada bahasa Ibu.