
•
Selama kurun waktu 2015 – 2017, saya banyak melakukan perjalanan ke daerah di Indonesia. Dalam perjalanan tersebut saya cukup produktif menulis puisi pendek, sebagian besar tentang cinta dan rindu.

•
Apa yang tertuang dalam buku The Future We Choose menurut saya penting, mendesak, dan sangat personal bagi Indonesia. Ia mengingatkan kita bahwa masa depan bukanlah takdir yang pasif kita terima, tetapi sebuah pilihan aktif yang kita buat hari ini melalui kebijakan, investasi, dan suara kita.

•
Novel ini mampu menjadikan sejarah yang abstrak dan seringkali diabstraksikan menjadi sangat intim dan multidimensi. Leila berhasil mengubah statistik dan jargon politik menjadi cerita tentang bau rendang yang merindu, bunyi gamelan yang terdistorsi oleh memori, dan rindu yang terpatri pada bahasa Ibu.

•
Buku ini berhasil karena menggabungkan visi besar dengan detail praktis. Rifkin tidak hanya berbicara tentang panel surya, tetapi tentang restrukturasi infrastruktur nasional, penciptaan “pekerjaan hijau” yang masif, dan pendanaan melalui obligasi hijau.

•
Heather White berhasil menulis sebuah manual yang tidak hanya informatif tetapi juga transformatif. Buku ini mengubah perspektif kita dari merasa kecil dan tak berdaya menjadi merasa memiliki agensi dan kekuatan yang unik.

•
“Disebabkan Oleh Angin” bukan sekadar puisi cinta. Ia adalah puisi tentang proses merasakan dan bagaimana perasaan yang abstrak itu membutuhkan perumpamaan yang konkret dari alam untuk bisa dipahami.

•
Keputusan saya untuk banting setir menjadi pekerja paruh waktu setelah tiga dekade bukan hanya soal kejenuhan. Ini adalah sebuah kesadaran bahwa gaya hidup kita yang serba cepat dan konsumtif adalah bahan bakar utama bagi kerusakan planet.

•
Bayangkan dunia di mana populasi lansia lebih banyak dari generasi muda, Afrika menjadi pasar raksasa baru, dan wanita menguasai mayoritas kekayaan global. Sebuah dunia yang sama sekali tidak kita kenal, tetapi hanya berjarak lima tahun dari sekarang.