
•
Pada tahun 2026, bangsa Indonesia akan bangun dalam realitas di mana dampak perubahan iklim bukan lagi ancaman yang dibicarakan di meja-meja seminar, workshop atau webinar, tetapi kondisi harian yang harus dihadapi.

•
Buku ini menawarkan sesuatu yang jarang kita temui: optimisme yang radikal. Bukan optimisme naif, tetapi optimisme yang bekerja, yang dibangun di atas sains keras, imajinasi sosial yang luas, dan keyakinan bahwa kita masih bisa—bahkan harus—membayangkan dan membangun masa depan yang layak dihuni.

•
Setiap pagi, jutaan warga Jakarta dan kota-kota besar lain di Indonesia menghirup sarapan beracun. Bukan dari makanan, tetapi dari polusi udara, yang bukanlah gangguan sampingan, melainkan “pembunuh tak kasat mata” yang merampas jutaan nyawa setiap tahun, menggerogoti ekonomi, dan memperdalam ketidakadilan sosial.

•
Buku ini mengajak pembaca menyaksikan sebuah pergeseran paradigma: lahirnya “kapitalisme sosial” di mana kesuksesan perusahaan diukur bukan hanya dari laporan keuangan, namun dari kemampuannya menciptakan “nilai bersama” (shared value).

•
Apa yang tertuang dalam buku The Future We Choose menurut saya penting, mendesak, dan sangat personal bagi Indonesia. Ia mengingatkan kita bahwa masa depan bukanlah takdir yang pasif kita terima, tetapi sebuah pilihan aktif yang kita buat hari ini melalui kebijakan, investasi, dan suara kita.

•
Novel ini mampu menjadikan sejarah yang abstrak dan seringkali diabstraksikan menjadi sangat intim dan multidimensi. Leila berhasil mengubah statistik dan jargon politik menjadi cerita tentang bau rendang yang merindu, bunyi gamelan yang terdistorsi oleh memori, dan rindu yang terpatri pada bahasa Ibu.

•
Buku ini berhasil karena menggabungkan visi besar dengan detail praktis. Rifkin tidak hanya berbicara tentang panel surya, tetapi tentang restrukturasi infrastruktur nasional, penciptaan “pekerjaan hijau” yang masif, dan pendanaan melalui obligasi hijau.

•
Heather White berhasil menulis sebuah manual yang tidak hanya informatif tetapi juga transformatif. Buku ini mengubah perspektif kita dari merasa kecil dan tak berdaya menjadi merasa memiliki agensi dan kekuatan yang unik.

•
Bayangkan dunia di mana populasi lansia lebih banyak dari generasi muda, Afrika menjadi pasar raksasa baru, dan wanita menguasai mayoritas kekayaan global. Sebuah dunia yang sama sekali tidak kita kenal, tetapi hanya berjarak lima tahun dari sekarang.