Perjalanan kembali ke Kabupaten Jayapura, setelah dua belas tahun sejak terakhir kali ke tanah Papua ini. Kali ini saya berkesempatan untuk menjelajah lebih dalam, bukan sekedar berburu makanan lokal dan oleh-oleh tradisional.
Hari pertama, 24 Feb. 2026
Setelah mendarat dari penerbangan panjang di bulan puasa, dari Jakarta ke Jayapura, yang dilanjut dengan beberapa pertemuan dengan Pemda Kabupaten Jayapura, saya memulai rute pertama ke beberapa lokasi yang memungkinkan untuk ditempuh dalam waktu setengah hari, yaitu ke Situs Megalitikum Tutari, Kampung Asei, Pantai Howe dan Kampung Yoboi. Semuanya berada di sekitar Danau Sentani.
Kunjungan pertama ke Situs Megalitikum Tutari di Kampung Doyo Lama – Distrik Waibu, sekitar 15 menit dari kantor Pemda. Situs ini merupakan situs purbakala utama di tepi Danau Sentani, tempat ratusan menhir dan batu-batu bergambar (petroglif) yang menggambarkan hewan seperti ikan, kura-kura, dan kadal yang berkaitan dengan kehidupan danau. Situs ini diyakini sebagai peninggalan suku kuno (Suku Tutari), yang konon berfungsi sebagai tempat pemujaan dan penghormatan leluhur. Batu-batu utama tersebar di beberapa puncak bukit, yang dapat diakses dengan tangga beton dengan naungan pohon ekaliptus. Menurut saya, lansekap utamanya justru pemandangan sepotong bagian Danau Sentani yang terlihat cantik dari ketinggian 50-200 mdpl. Banyak hal yang sebenarnya masih menjadi pertanyaan di benak saya. Dari mana asal batu-batu besar ini? Saya yakin bukan dari Gunung Cycloop, karena Pegunungan Cycloop (atau Dafonsoro) merupakangugusan pegunungan non-vulkanik.

Kunjungan berlanjut ke Kampung Asei yang kami akses melalui Dermaga Khalkote. Di sekitar Dermaga Khalkote adalah lokasi penyelenggaraan event tahunan Festival Danau Sentani. Setelah 20 menit menyeberang dengan perahu tradisional, saya bisa melihat suasana di Kampung Asei Besar, yang merupakan kampung wisata budaya di pulau Danau Sentani, dimana warganya mahir membuat kerajinan dari kulit kayu. Tak banyak yang bisa dinikmati sebenarnya. Mungkin karena bulan puasa dan sepi pengunjung, jadinya saya tidak melihat adanya aktivitas wisatawan.

Setelah mengambil foto berbagai sudut yang menurut saya menarik, perjalanan berlanjut ke Kampung Yoboi, sekitar 20 menit dari Khalkote. Di perjalanan, berhenti sejenak di Pantai Howe, yang sepertinya jadi salah satu tempat favorit warga lokal untuk nongkrong, minum kopi dan menikmati pemandangan danau. Kampung Yoboi diakses dengan kapal tradisional melalui Dermaga Yahim. Banyak yang dilihat di sekitar Dermaga Yahim, mulai dari kios-kios jualan mama-mama, yang sebagian besar menjual buah pinang, juga beberapa tugu salib yang menurut saya cukup menawan, karena ukurannya yang lumayan besar.

Setelah 20 menit menyeberang dengan menggunakan perahu tradisional, Kampung Yoboi cukup menarik untuk dijelajahi. Kampung Yoboi sendiri adalah desa wisata unik yang mayoritas bangunannya terapung di atas Danau Sentani, termasuk lapangan volinya. Tapi sebenarnya, saya tertarik dengan hutan sagu yang ada di kampung ini, yang konon merupakan hutan sagu terluas di Jayapura. Saya menghabiskan waktu untuk berjalan menyusuri jembatan kayu sepanjang 420 meter menembus hutan sagu. Sayangnya, beberapa bagian dari jembatan dan shelter sudah rusak dan kondisinya kurang terawat. Tapi melihat pohon-pohon sagu dengan ukuran raksasa yang daun-daunnya menjuntai membetuk kanopi, membuat sore menjadi asik untuk dinikmati.

Hari Kedua, 25 Feb. 2026
Setelah sahur dan pertemuan dengan beberapa perangkat dinas Pemda, saya berkunjung ke Kampung Bambar di Distrik Waibu. Kampung ini adalah destinasi wisata alam dengan pemandian kolam alami dan air terjun di kaki pegunungan Cycloop. Tempat ini populer bagi warga lokal yang berkunjung untuk berenang dan menikmati pemandangan alam. Setelah mengambil foto-foto, saya lanjutkan ke Ifar Gunung untuk napak tilas Jenderal Douglas MacArthur. Ifar Gunung sendiri saat ini masuk dalam lingkungan Resimen Induk Daerah Militer (Rindam) Kodam XVII/Cenderwasih, sebuah lembaga pendidikan militer Kodam XVII/Cenderawasih. Tempat ini menjadi lokasi yang tepat untuk menikmati landsekap Danau Sentani secara nyaris utuh dan pusat Kota Sentani dari ketinggian 325 mdpl. Yang menarik adalah, sebuah tugu yang menjadi penanda keberadaan Jenderal McArthur di tahun 1944.

Dalam perang Pasifik, Papua menjadi kawasan strategis Panglima Tertinggi Komando Daerah Pasifik Barat Daya, Jenderal Douglas Mac Arthur dalam rangka serangan balik menuju Tokyo. Dari penjelasan penjaga di situs ini, McArthur menjadikan Ifar Gunung sebagai markas besarnya karena dari lokasi ini bisa mengawasi pergerakan pesawat di lapangan terbang Sentani. Di tempat inilah Mac Arthur menyusun strategi lompat katak sebagai serangan balik menuju Tokyo. Konon, Mac Arthur sangat menyukai es krim, yang selalu tersedia di kulkas sang jenderal. Sambil menikmati pemandangan sore yang memukau dari ketinggian, saya membayangkan betapa hiruk pikuknya tempat ini ketika itu. Saat Sekutu yang terdiri Amerika, Australia, Inggris dan Belanda menyerbu Hollandia (Jayapura) pada bulan April 1944. Saat armada sekutu yang terdiri dari dua ratusan kapal perang mendarat di Teluk Tanah Merah (Depapre) dan Teluk Humboldt yang saat ini dikenal dengan nama Pantai Hamadi di Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura. Sementara di langit, sekitar delapan ratus pesawat terbang membayangi kesatuan-kesatuan sekutu yang mendarat di kedua lokasi ini.
Hari Ketiga, 26 Feb. 2026
Perjalanan masih berlanjut ke tempat-tempat bersejarah. Lebih tepatnya, napak tilas Sekutu dan Jepang di Kabupaten Jayapura. Di hari ketiga, saya ditemani oleh kawan-kawan dari Pemda Kabupaten Jayapura beranjak kearah barat laut dari kota kabupaten, menuju ke Tablanusu dan beberapa pantai yang menjadi lokasi pendaratan Sekutu. Dalam perjalanan, kami berhenti sejenak di makam pahlawan nasional, Marthen Indey, yang membantu Indonesia menyiapkan pemberontakan melawan Belanda di Irian Barat (sekarang Papua) pada akhir Desember 1945, dan menyelamatkan anggota RPKAD di Irian Barat selama Operasi Trikora. Setelah itu mengunjungi situs tempat meriam Jepang di Waibron. Sayangnya yang tersisa tinggal instalasi batu tempat dudukan meriam. Sementara meriamnya sendiri sudah hilang.

Sekitar setengah jam dari lokasi situs meriam, akhirnya sampai di Tablanusu, sebuah kampung yang memiliki pantai dengan batu koral hitam di garis pantainya. Konon wilayah Desa Tablanusu jadi basis pertahanan dan pusat komando tentara sekutu untuk mengontrol wilayah Papua dan sekitarnya selama Perang Dunia II. Di sebelah Desa Tablanusu adalah Kampung Waiya yang menjadi lokasi tanki bahan bakar yang dibangun oleh pasukan Sekutu. Dari informasi, terdapat 23 tangki penyimpanan bahan bakar minyak/solar (fuel dump) untuk mendukung operasional armada Sekutu, yang konon dibangun hanya dalam waktu semalam oleh tentara Sekutu. Sayangnya, saat ini tinggal tersisa 19 tanki yang tersebar di lereng-lereng bukit. Menjelang sore, kami bergerak ke Pantai Amay yang di tahun 1944 menjadi salah satu lokasi pendaratan pasukan Sekutu.


Selesai dengan perjalanan “napak tilas”, kami bergerak ke Nimbokrang. Setelah istirahat sejenak untuk berbuka puasa di rest area dalam perjalanan ke Nimbokrang, kami tiba dan bermalam di Isyo Lodge yang dikelola oleh Pak Alex Waisimon, seorang pegiat lingkungan yang pernah lama bekerja di industri pariwisata di Bali.


Hari Keempat, 27 Feb. 2026
Kami bangun menjelang pukul tiga pagi. Usai sahur, kami bergerak masuk hutan yang dipandu sendiri oleh Pak Alex. Perjalanan yang cukup penguras energi, karena kondisi tanah yang naik turun, kondisi hutan yang masih cukup rapat, serta tanah becek yang memaksa untuk sedikit bertenaga saat berjalan dengan sepatu boot. Menjelang subuh tiba di gubuk pengamatan pertama. Dan kami beruntung, saat langit perlahan terang, kami bisa melihat Cenderawasih pertama, yang kata Pak Alex jenis ini termasuk yang langka. Saya tertegun mendengar suara kicaunya, ekor panjangnya dan warna badannya yang sebagian keemasan. Sayangnya kamera smartphone saya tidak cukup memadai untuk memotret dalam kondisi gelap dan zoom yang terbatas. Kami melakukan trekking menjelajah hutan selama kurang lebih empat jam, dan kami berhasil melihat empat ekor Cenderawasih dari beberapa jenis. Selama di perjalanan kami mendapat banyak informasi dari Pak Alex tentang kondisi hutan tersebut.

Pada tahun 2015, Pak Alex bersama masyarakat adat setempat bergotong royong mengelola hutan adat yang berada di antara Kampung Rephang dan Muaif seluas kurang lebih sembilan ribu hektar. Minat orang untuk melihat burung Cenderawasih di habitat aslinya menginspirasi Pak Alex membangun Bird Watching Isyo Hills.

Usai kembali ke lodge dan mandi, kami beranjak ke Kalibiru, sebuah sungai yang memiliki air jernih masih alami, berwarna biru kehijauan, setelah sebelumnya mampir sejenak di Kampung Kuase di Distrik Nimboran untuk melihat situs tentara Jepang. Situs itu berupa tugu Jepang yang dibangun untuk memperingati ribuan tentara Jepang yang tewas pada waktu itu. Yang membuat saya termangu adalah setelah membaca prasasti di tugu tersebut. Saya merinding membayangkan situasi saat itu. Kala ribuan tentara Jepang yang melakukan long march kearah Sarmi untuk menghidari kejaran tentara Sekutu. Di prasasti Tugu Jepang ini tertulis:
“Sebanyak 7220 tentara Kekaisaran Jepang yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Masazumi Inada memimpin long march pada 30 April 1944 sejauh 125 mil dari Nimboran ke Sarmi, menghindari pasukan Sekutu. Dari 7220 tentara, hanya 500 orang tentara yang tiba di Sarmi pada tanggal 17 Mei 1944. Lebih dari 6.700 pasukan mati dan dikuburkan di antara Nimboran dan Sarmi”
Perjalanan kami akhiri dengan jelajah sungai Namblong dengan rakit bambu, atraksi wisata yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Masyarakat Adat (BUMMA) Namblong. Mengarungi sungai Namblong seperti membunuh waktu namun mengalir lembut ke suatu tujuan. Angin yang menyaput wajah seperti membisikkan harapan, bahwa saya akan kembali lagi ke tempat ini. (*)


Foto-foto oleh Legowo dan koleksi pribadi
