Potong Lembu

Seorang kawan yang juga ASN di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mengatakan kepada saya, “Jangan ngaku pernah ke Tanjungpinang kalau belum pernah nongkrong di bekas tempat jagal sapi!” Kedengarannya ekstrem? Tapi inilah kenyataan di balik Akau Potong Lembu, surga kuliner legendaris di Kepri. Awalnya saya berpikir, ini sama dengan tempat-tempat makan lain di daerah ini, hanya dengan menu daging sapi. Ternyata saya salah. Tempat ini bukanlah semacam kafe estetik yang membosankan, tapi semacam food court yang memiliki sejarah yang berlumur aroma bumbu, asimilasi budaya yang kental, dan rasa yang sudah teruji oleh zaman.

Kedatangan pertama saya ke Potong Lembu adalah bulan September 2025. Pada kunjungan pertama ini saya mengalami euforia rasa yang memanjakan lidah. Sebatas itu. Namun, pada kunjungan kedua di pertengahan Februari 2026 lalu, saya jadi penasaran untuk tahu lebih banyak tentang tempat ini.

Hidden Gem” yang tidak sepenuhnya tersembunyi

Potong Lembu berada di pantai barat selatan Bintan, tepatnya di Tanjungpinang, Ibu Kota Kepri. Lokasinya berada di kawasan pecinan yang secara historis memang menjadi titik temu berbagai bangsa sejak abad ke-2. Kawasan ini buka setiap hari, mulai dari pukul lima sore WIB hingga tengah malam.

Nama “Potong Lembu” itu bukan sekadar hiasan. Sejarahnya cukup unik dan sedikit “garang.” Dari beberapa sumber yang coba saya gali, nama ini lahir di masa konfrontasi sekitar tahun 1962-1966. Saat itu, Tanjungpinang putus hubungan dagang dengan Malaysia dan Singapura. Untuk memenuhi kebutuhan daging, Angkatan Laut (melalui koperasi) mengimpor sapi dan lembu secara besar-besaran dari Madura. Hewan-hewan tersebut kemudian disimpan dan dipotong di jalan yang sekarang dikenal sebagai Jalan Potong Lembu. Jadi, dulunya tempat ini adalah pusat penjagalan sapi.

Lalu, dari mana nama “Akau” berasal? Ternyata Akau bukan nama jalan atau pahlawan, melainkan nama seorang pedagang kopi legendaris. Nama aslinya adalah Ajang, seorang etnis Tionghoa yang mulai berjualan kopi kaki lima di Jalan Merdeka sejak tahun 1959. Orang-orang lebih akrab memanggilnya dengan nama panggilan Tionghoa, yaitu Akau. Pada tahun 1990-an, Akau memindahkan tempat usahanya ke Jalan Potong Lembu. Kesuksesan kedai kopi Akau menarik pedagang-pedagang lain untuk ikut berjualan di sana, hingga akhirnya kawasan ini bertransformasi menjadi pusat kuliner malam terbesar yang menyandang namanya hingga sekarang.

“Liao Lai”: jejak pecinan dan keberagaman suku

Tanjungpinang adalah kota dengan sejarah etnis Tionghoa yang sangat kuat. Bahkan pada tahun 1906-1910, persentase etnis Tionghoa di sini mencapai lebih dari limapuluh persen, menjadikannya salah satu yang terbanyak di Indonesia pada masa itu. Etnis Tionghoa setempat menyebut kota ini sebagai “Liao Lai”. Kata “Liao” diambil dari sebutan Riau, dan “Lai” berarti “di dalam” atau “kemari” dalam dialek Teow Tjiu.

Di kawasan sekitar Akau, tersimpan denyut nadi kehidupan berbagai suku Tionghoa seperti Hokkian, Teow Tjiu, Hakka, Kanton, hingga Hainan. Masing-masing membawa keahlian kulinernya sendiri. Suku Hainan dan Kanton, misalnya, dikenal sebagai masternya mengaduk kopi (chong kopi) dan membuat selai kaya yang lumer di mulut. Ada juga jejak sejarah unik seperti “Chau Hang” atau Lorong Bau di dekat Jalan Merdeka, yang dulunya kawasan remang-remang namun kini telah menjadi kediaman harmonis bagi warga etnis Tionghoa.

Setelah direnovasi besar-besaran oleh Pemkot Tanjung Pinang, Akau Potong Lembu tampil lebih modern dan rapi. Konon kabel-kabel listrik yang semrawut yang dulu menghiasi langit-langit Akau kini sudah ditanam di bawah tanah, membuat pemandangan jadi lebih bersih.

Daya tarik utamanya adalah konsep outdoor kuliner. Di dekat pusat kuliner Potong Lembu terdapat sebuah Masjid (Al-Muhajirin) yang berdiri megah tepat di kawasan pecinan ini, yang biasanya digunakan para pengunjung muslim untuk menunaikan shalat.

Eksplorasi menu: surga seafood dan jajanan autentik

Siapkan perutmu, karena menu di Akau sangat beragam dan bisa bikin kalap. Beberapa bintang utama yang wajib kamu coba adalah

  • Gonggong: Siput laut khas Kepulauan Riau ini adalah ikon yang wajib dicicipi. Teksturnya kenyal dan sangat nikmat jika dicocol dengan sambal khusus.
  • Hekeng: Gorengan olahan daging (ikan, ayam, atau sapi) yang dibungkus kulit tahu. Yang paling legendaris dan langka adalah Hekeng Hiu yang punya rasa sangat khas.
  • O Luak: Telur dadar tiram yang dimasak dengan campuran tepung beras dan daun seledri. Rasanya gurih dengan sensasi tiram yang segar, apalagi ditambah bubuk cabai hijau.
  • Ayam Bawang: Ayam goreng bumbu yang ditaburi bawang putih goreng utuh dalam jumlah banyak. Wanginya luar biasa menggoda.
  • Kwetiau Goreng: Memiliki rasa nikmat dengan aroma smoky (sensasi asap) khas teknik memasak Tionghoa yang autentik.
  • Mi Miskin & Mi Tarempa: Pilihan mi khas setempat yang punya cita rasa kuat dan melegenda.
  • Es Cendol Abi: Ini adalah minuman paling legendaris di Akau yang sudah dirintis sejak tahun 1964. Cendolnya menggunakan kombinasi warna hijau dan pink, dipadu kacang merah, santan, dan gula merah yang kental.
  • Kopi O & Teh Obeng: Jangan lupa memesan kopi hitam (Kopi O) atau es teh (Teh Obeng) untuk melengkapi sesi nongkrongmu.

Salah satu alasan kenapa Akau selalu ramai adalah harganya yang sangat terjangkau bagi semua kalangan.

Tips berkunjung

Bagi wisatawan muslim, jangan khawatir. Meskipun berada di kawasan pecinan, banyak pedagang di sini yang menjual makanan halal. Namun, karena tempat ini bercampur dengan penjual makanan non-halal, ada baiknya kamu tetap bertanya terlebih dahulu kepada penjual mengenai status kehalalan menu yang mereka sajikan demi kenyamananmu.

Akau Potong Lembu bukan sekadar tempat makan; ia adalah saksi bisu perjalanan sejarah Tanjungpinang. Dari pusat penjagalan sapi di masa konfrontasi, menjadi pusat perdagangan “Liao Lai Nang” yang sibuk, hingga kini menjadi ikon wisata kuliner modern yang tetap menjaga akar budayanya.

Jadi, kapan kamu mau meluncur ke sini? Jangan lupa kosongkan perut dan siapkan kamera, karena setiap sudut Akau punya cerita yang layak untuk dibagikan. (*)