Selama kurun waktu 2015 – 2017, saya banyak melakukan perjalanan ke daerah di Indonesia. Dalam perjalanan tersebut saya cukup produktif menulis puisi pendek, sebagian besar tentang cinta dan rindu. Bukan tanpa alasan tentunya. Menulis puisi cinta menjadi cara saya mengelola perasaan seperti kesepian, keterpesonaan, atau kerinduan yang sering muncul saat traveling sendirian. Selamat menikmati, dan silakan disalin jika dirasa sesuai untuk menggambarkan perasaan Anda.
2015
Mencuri waktu yang singkat,
Disela-sela jeda langkah,
Sekedar membayangkan tawa kecilmu,
Seperti mengusap air hujan,
Yang masih terasa sejuk
Meski tlah hilang bulir-bulir beningnya.
Denpasar 18 Sept. 2015
Saat cahaya masuk dari tirai yang terbuka,
Ada sepi yang berubah jadi pagi,
Datang lagi satu cerita baru,
Yang sebenarnya adalah rindu yang tersimpan,
Menunggu dan menunggu,
Sampai tiba kita bertemu,
Entah kapan…
Waingapu, Sumba, 27 Sept. 2015
Bulan penuh telah pulang,
Sisa sinarnya tertinggal di cakrawala,
Anak-anak itu bermain dengan kaki telanjang,
Menemani ibunya yang menggelar dagangan di dermaga.
Ada banyak tanya yang tak pernah aku dapatkan jawabnya,
Karena hidup kadang harus dilalui tanpa banyak tanya,
Dia menjawab dengan kenyataan.
Labuan Bajo, 29 Sep.t 2015
Langit memainkan musiknya sendiri malam ini,
Bulan terselip diantara pucuk pohon dan salip diatas kubah gereja,
Sementara lautan gelap dan ombak tak beriak tak berisik,
Batinku terdiam walau gelisah,
Mungkinkah bulan malam ini bisa membawaku menemuimu.
Labuan bajo, 29 Sept. 2015
Jaket yang kukenakan tak pernah mampu menghangati ku dengan sempurna,
Meski begitu, dia menemaniku melewati semua musim dan tahun,
Sampai saatnya kelak akan menjadi usang,
Dan aku harus merelakannya,
Akankah kamu masih mengenalku saat aku telah sendiri?
Ende, 30 Sept. 2015
Siapa yang bisa menjamin mendung ini akan jadi hujan?
Sia-sia rasanya kalau ingin menerka-nerka,
Sebab Tuhan punya kuasa atas semuanya,
Buktinya, aku tak kuasa saat hatiku mulai jatuh padamu,
Dan aku harus kuakui,
Aku teramat sombong untuk menyembunyikan rasa ini,
Ketika aku mulai merasa,
Bahwa aku jatuh cinta padamu.
Ende, 1 Okt. 2015
Meski hanya setetes, embun pagi selalu hadir di tiap lembar daun,
Dan daunpun tak pernah menghindar,
Karena dia selalu berpikir, tidak semua bisa seperti embun yang selalu bisa menyejukkan paginya..
Pasti Tuhan punya rencana indah untuk keduanya.
Surabaya, 7 Okt. 2015
Kadang sendiri itu menyenangkan,
Seperti rajawali yang singgah di batu di puncak bukit,
Melihat seluas cakrawala.
Tapi bukankah dia juga kadang melayang turun,
Mengepakkan sayap di atas hamparan savana luas,
Dan menyeimbangkan hidup dengan sekitarnya,
Agar kesendirian tidak membawa ke sepi yang mencekam.
Surabaya, 7 Okt. 2015
Membaca jalan hidup adalah membaca tanda-,
Seringkali waktu terbuang saat lupa menengarai isyarat alam,
Bahasamu dan bahasaku mungkin tak pernah bisa bertemu,
Namun satu hal yang aku yakini,
Bahasa hati yang telah tertambat di dermaga harimu.
Sanur, Bali 12 Okt. 2015
2016
Kalau memang tak bisa kudapatkan waktumu,
Kalau memang tak ingin kau dengar suaraku,
Kalau memang tak sudi engkau menatap wajahku,
Izinkan aku hadir di harimu dengan doa,
Karena sesungguhnya, bukan diri dan kehadiranmu yang sangat kuharapkan,
Tapi hatimu lah yang kurindukan.
Surabaya, 12 Nov. 2015
Aku lihat burung-burung bangau terbang rendah,
di atas hamparan tambak,
mematuki air dan menciptakan pusaran kecil diatasnya,
sementara sungai-sungai kecil mengular bertemu di muara,
dan aku terpekur mengenang jalan hidupku.
Pada akhirnya,
semua sampai pada keseimbangannya.
Sidoarjo, 17 Feb. 2016
Memulai pagi menata hari,
tak ada yang perlu dirisaukan.
Kegalauan hanya akan menambah beban.
Seperti bumi yang pelan-pelan terang oleh matahari,
dia sabar menanti cahayanya.
Sidoarjo, 18 Feb. 2016
Kamu adalah kawan terbaikku,
apapun yang terjadi di dalam hidupmu,
Mungkin Tuhan sudah menyiapkan lembaran hidup,
Yang membuatku mengenalmu pelan-pelan,
Biarlah angin dari gunung dan garam di lautan bertemu di tepian pantai,
Mereka dilahirkan berdampingan…
Kuta, Bali 20 Feb. 2016
2017
Akhirnya terjawab kemana air turun,
Setelah sekian perjalanan mencari sayup deburnya,
Di hening bukit tersembunyi.
Derasnya seperti rindu menerpa batu,
Kulonprogo, 28 Jan. 2017
Sesuatu yang bernama waktu, dia tak memilih untuk sendiri,
Di angka detik dan menitnya menjadi peristiwa,
Begitu pula saat ingin merasakan hadirmu,
Tak perlu pesta dan keriuhan yang gempita,
Dia ada di setiap perhentian yang sunyi.
Solo, 15 Okt. 2017
Beberapa halaman terakhir buku tak pernah usai dibaca,
Pembatas dari kulit diam diantara kata-kata yang menguap,
Sampai akhirnya cerita tak pernah tuntas,
Mungkin sempurnanya kita justru saat tak bersama.
Malang, 16 Okt. 2017
Kenangan itu ibarat bangunan tua,
akan terlihat usang saat kita dekati,
Eksotis dalam bingkai yang diam,
Menolak untuk disinggahi terlalu lama
Kesamben, Malang, 16 Okt. 2017
Setiap jeda memberi ruang untuk menepi,
Di sisa hari yang beranjak temaram,
Sesaat menuju ke sendiri.
Hotel Tugu, Blitar 17 Okt. 2017
Semua ada batasnya, katamu
Seperti ingatan ke jejak silam,
Yang tak harus diratapi
Blitar, 18 Okt. 2017
Butiran air hujan menempel di kaca kereta,
Ketika aku bangun oleh cahaya yang gak seberapa,
Langit mendung, tanah basah berkelebat di seberang
Aku tak bisa mencium baunya,
Tapi kenangannya mengikutiku
Hampir yogya, 4 Nov. 2017
Hening yang sama, setahun berlalu
Catatan harian menyisakan beberapa halaman tanpa kalimat,
Sengaja biar ada ruang kosong,
Tak harus digenapkan jika memang takdirnya begitu
Yogya, 31 Des. 2017
