Saya berkesempatan indekos di Jakarta, kurang lebih enam tahun, antara tahun 2017 – 2023. Selama itu pula saya berusaha “menjinakkan” kerasnya kota ini dengan menulis puisi. Tentang apapun. Tapi sebagian besar juga tentang cinta. Cinta untuk siapapun yang saya temui disana dan berbagi cerita. Selamat membaca, dan silakan disalin jika membutuhkan.
2017
Semoga harimu menyenangkan.
Waktu bergerak, dan kemarin kamu menandai waktu dan usiamu.
Bukan usia yg muda lagi.
Tapi bukankah hidup bukan sekedar angka?
Hidup adalah memuliakan hari, dan memaknainya dengan senyuman.
kemarin adalah hari istimewa bagimu.
Hanya orang yg istimewa yg berhak merayakan dengan dirimu, yaitu dirimu sendiri.
Jakarta, 4 Agust. 2017
Aku bisa merasakan sepimu
Aku bahkan bisa merasakan tangismu yang kau sembunyikan di keseharianmu
Karena itulah, aku ingin menemanimu semampuku
Sampai saatnya takdir itu sampai padamu,
Dan menyembuhkan semuanya
Jakarta, 8 Agust. 2017
Tak selalu harus hadir untuk menunjukkan dirimu ada.
Saat dunia tak percaya lagi pada waktu,
Pagi akan menjelma menjadi kesunyian,
Siang serupa hamparan gurun sejauh cakrawala,
Dan malam membungkus raga laksana selimut raksasa.
Tak ada yang perlu ditakuti. Semua akan baik-baik saja meski harus sendiri
Jakarta, 16 Agust. 2017
Seketika awan gelap,
dan sejenak murung dalam tangis tumpah ke bumi,
hujan.
Tanah meruap basah
mengajak ingatan ke bingkai usang.
Aku tak bergeming,
lurus berjalan meninggalkan jejak panjang,
melupakan beban.
Aku tlah bersamamu mendaki jalan baru,
yang kita yakini akan panjang dan abadi.
Jalan ini milik kita.
Jakarta, 30 Agust. 2017
Sesaat aku mengira itu lampu jalan
Temaram tersaput rintik hujan
Nyatanya itu bulan,
yang beberapa saat tertutup wangi ujung rambutmu.
Aku terkesima, karena kita mengalaminya berdua.
Busway Kota-Blok M, 5 Sept. 2017
Ada yang sudah merasa lengkap saat bertukar kasih di dunia maya, generasi milenial.
Ada yang lebih memilih memandang wajah dan kehadiran,
menghabiskan waktu yang sebagian orang menganggapnya sia-sia.
Aku tak pernah memilih,
karena aku bebas berada di semua dunia.
Dan karena tujuan dari perjalananku bukan untuk memiliki,
tetapi memahami.
Jakarta, 14 Sept. 2017
Sengaja aku menemani diri sendiri,
Agar ingatanku padamu tak pudar.
Gambir, 3 Nov. 2017
Setiap pagi adalah perayaan,
Dari sisa pesta mimpi semalam,
Kisahnya tertinggal di lantai kamar,
Sementara raganya mengembara di kaca-kaca gedung,
Memulai cerita yang baru
Jakarta, 3 Nov. 2017
Tak ada yang menghalangi kita membicarakan cuaca,
Langit menjadi alasan untuk jeda menimbun angka-angka,
Jaket yang kukenakan tak sempurna menahan air dari langit yang berkesah,
Sementara atap tak kuasa melindungimu dari sengatnya,
Kita sebenarnya lemah dihadapan cuaca.
Jakarta, 7 Nov. 2017
Goresan cahaya itu bernama pagi,
Sinarnya bercermin di dinding-dinding gedung,
Anginnya membawa kabar tentang rindu,
Yang menempel di daun basah sisa hujan semalam.
Jakarta, 7 Nov. 2017
Tak pernah kau mewakilkan tangis pada hujan,
Meski badai di dadamu menjelma marah dan luka dalam,
Tak sekalipun kau titipkan dukamu pada angkasa,
Walau kau rasa mendung menutupi jalanmu.
Lalu kenapa aku harus beranjak meninggalkanmu?
Aku merasa kita dilahirkan berdampingan.
Jakarta, 21 Des. 2017
2018
Pernah kita bicara tentang mimpi,
Meski kadang kita tak yakin tentangnya,
Sering kita ragu akan jalan setapak,
Yang diam-diam menuntun kita ke ketinggian.
Jakarta, 4 Jan. 2018
Akhirnya hari selalu akan beranjak pulang,
Ketika tubuh telah terasa penat dan hati butuh istirahat,
Dan ketika itu pula kesendirian akan menemani
Tebet, 27 Juni 2018
Semua orang punya kenangan,
Tapi tak semua terulang di bingkai yang sama
Starbuck-Sarinah, 10 Juli 2018
Ketika tak lagi ada ucap selamat malam,
menjelang senyap menuju lelap,
seperti dahulu,
kurasa aku tlah tertinggal jauh, d
an yang tersisa hanya doa yang teduh.
Tebet, 7 Agust. 2018
Setiap senja punya cara bertuturnya sendiri.
Tapi satu hal yang selalu sama.
Dia mengajak untuk pulang.
Tebet, 23 Agust 2018
Ketika yang tersisa hanya doa..
Jakarta, 12 Sept. 2018 – after lunch toko 3
Aku lupa menitipkan senyum di langit pagi tadi,
Sampai birunya sembunyi hingga ujung senja.
Jakarta, 25 Okt. 2018
Sejak awal aku sadar ini tak akan mudah,
Itulah kenapa aku tak akan menghindar,
Dan tak akan mengucap kata capek sampai kapanpun,
Sebab aku telah ikhlaskan egoku,
Dan karena aku memulai bukan untuk berhenti.
Jakarta, 17 Des. 2018
Pada senja aku menitipkan lelahku,
Usai seharian menahan keluh,
Saat bias jingga langitnya berpendar,
Aku selalu berharap, kaulah senja itu.
Jakarta, 18 Des. 2018
2019
Ketika puisi itu adalah kamu,
Aku tak memerlukan lagi kertas dan pena, atau papan ketik di komputer,
Setiap baitnya sudah tersimpan di otakku,
Dan semua liriknya membawa ingatanku tentang kita.
Jakarta, 14 Jan. 2019
Mari bicara tentang jatuh cinta,
Karena ketika aku memberimu puisi, kau tak pernah paham maknanya.
Ayolah berhenti sejenak mikir ruwetnya asmara,
Toh yang dibutuhkan tak sekedar pundak untuk menggayutkan kepala saat risau,
Bergegaslah menjemput mimpi saat malam mengajakmu pulang,
Sebab rindu akan terbayar di lelapmu
Jakarta, 15 Jan. 2019
Jika kau ada disampingku saat ini,
Maka hujan dan dirimu akan menjadi ceritaku seharian
Jakarta, 21 Jan. 2019
Kaki kecil kelak menjadi langkah panjang,
Tangan mungil akan menjadi sayap lebar,
Buat Menik – Jakarta, 10 Feb. 2019
Karena bisa saja itu membebanimu, dan tak lagi bermakna buatmu.
Lalu aku berpikir tentang masa depan,
Dan aku selalu yakin kau mampu mendapatkan yang terbaik,
yang selama ini mungkin tak pernah mampir di mimpimu sekalipun.
Ketika itulah aku tak akan bosan mendukungmu,
meski hanya sekedar doa kecil di tiap penghujung malam.
Sadar jika semua itu perlu waktu, aku akan selalu berusaha ada saat kau memerlukanku.
Dan aku juga sadar,
bukan bait-bait puisi yang selalu kau butuhkan,
tapi pelaksanaan kata-kata yang tak bersayap yang kau inginkan.
Semoga aku selalu mampu memberi keduanya,
keindahan puisi dan kenyataannya.
Aamiin
Jakarta, 18 Feb. 2019
Bahkan waktu pun membutuhkan malam,
untuk berhenti dan terdiam sejenak.
Begitu pula dengan pikiran,
dia perlu ruang kosong untuk diisi dengan kesunyian,
agar bebas dari beban meski sesaat.
Jkt, 28 April 2019
Bagiku, kamu sudah tinggal dan menetap di hatiku,
tak pergi kemana-mana
Sejauh ini bukan memiliki.
Tapi lebih dari itu.
Aku memahamimu,
dan kau memahamiku.
Tak satupun puisi pernah kutulis untukmu.
Karna kaulah puisi itu
Jakarta, 10 Mei 2018
Tak banyak puisi aku tulis tahun ini,
Karena sebenarnya aku sedang menjalani puisi bersamamu,
Tak sempat aku kunjungi dirimu sesering yang lain,
Aku sibuk membuktikan janjiku padamu,
Memunguti hari untuk bekal esokmu,
Sambil merawat rindu yang ujungnya sudah mengusap-usap di awan,
Mengajak pulang, turun membentuk hujan.
Jakarta, 20 Mei 2018
